Astronnews.com , JAKARTA – Ketegangan politik antara China dan Jepang berdampak signifikan terhadap industri penerbangan kedua negara. Maskapai memangkas hampir 700 ribu kursi dan menghapus lebih dari 5.000 penerbangan untuk musim dingin 2026-2027.

Pengurangan kapasitas penerbangan ini berpotensi mengganggu perjalanan wisatawan, terutama karena China selama ini menjadi salah satu sumber wisatawan mancanegara terbesar bagi Jepang.

Mengutip South China Morning Post, Rabu (4/11/2026), data penyedia informasi penerbangan OAG mencatat kapasitas penerbangan antara China dan Jepang untuk periode 25 Oktober 2026 hingga 27 Maret 2027 mencapai 2,87 juta kursi.

Jumlah tersebut turun dari 3,55 juta kursi pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kapasitas itu juga lebih rendah dibandingkan enam bulan sebelumnya yang mencapai 3,89 juta kursi.

Kepala Analis OAG, John Grant, menyebut penurunan tersebut mencerminkan besarnya pengaruh geopolitik terhadap industri penerbangan.

Selain memangkas kapasitas kursi, maskapai juga menghapus sebanyak 5.433 penerbangan dibandingkan musim dingin tahun lalu.

Berdasarkan data 22 maskapai, total penerbangan yang direncanakan untuk musim dingin 2026-2027 hanya mencapai 12.613 penerbangan.

Maskapai China Paling Banyak Pangkas Kapasitas

Maskapai asal China menjadi pihak yang paling banyak melakukan pengurangan kapasitas penerbangan.

Air China memangkas 60.898 kursi, China Eastern Airlines mengurangi 111.260 kursi, sementara China Southern Airlines memangkas kapasitas hingga 82.575 kursi.

Pengurangan juga terjadi pada jumlah penerbangan. Air China menghapus 909 penerbangan, China Eastern Airlines sebanyak 1.185 penerbangan, dan China Southern Airlines memangkas 511 penerbangan dibandingkan musim dingin sebelumnya.

Langkah tersebut menunjukkan dampak nyata ketegangan politik terhadap konektivitas udara antara kedua negara.

Ketegangan Taiwan Picu Imbauan Perjalanan

Pengurangan penerbangan dalam jumlah besar mulai terjadi sejak November 2025, setelah Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menyatakan Tokyo berpotensi mengerahkan militer apabila terjadi konflik di Selat Taiwan.

Pernyataan tersebut memicu ketegangan dengan Beijing. Pemerintah China kemudian mengimbau warga negaranya untuk tidak bepergian ke Jepang.

Sejumlah maskapai China juga menawarkan pengembalian dana penuh kepada penumpang yang telah memesan tiket penerbangan menuju Jepang.

Kebijakan tersebut turut memengaruhi permintaan perjalanan dan mendorong maskapai menyesuaikan jadwal serta kapasitas penerbangan.

Pariwisata Jepang Terancam Terdampak

Sebelum ketegangan meningkat, China merupakan salah satu pasar wisatawan terbesar bagi Jepang. Berkurangnya penerbangan berpotensi memengaruhi kunjungan wisatawan, sektor pariwisata, hingga bisnis yang bergantung pada kedatangan turis China.

Meski demikian, Profesor Ritsumeikan Asia-Pacific University, Yoichiro Sato, menilai maskapai berbiaya rendah atau low-cost carrier kemungkinan masih dapat mempertahankan layanan di pasar penerbangan China-Jepang.

Situasi ini menunjukkan bahwa dinamika politik kedua negara tidak hanya berdampak pada hubungan diplomatik, tetapi juga merembet ke sektor transportasi, pariwisata, dan perekonomian.

Jika ketegangan terus berlanjut, pemulihan kapasitas penerbangan antara China dan Jepang diperkirakan masih menghadapi tantangan pada musim dingin mendatang.(*)

Sumber: detikcom