BANGKOK — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia dampaknya mulai meluas hingga ke negara tetangga. Thailand bagian selatan kini diselimuti kabut asap tebal akibat asap yang terbawa angin dari Indonesia.
Berdasarkan data satelit dari Badan Pengembangan Teknologi Geoinformatika dan Antariksa (GISTDA) Thailand, tercatat ada 12.241 titik panas terdeteksi di Indonesia pada 15 September 2026. Di saat yang sama, tidak ada titik panas yang terdeteksi di wilayah Thailand. Namun, pergerakan angin membawa kepulan asap ke arah utara menuju perbatasan selatan Negeri Gajah Putih tersebut.
Kabut asap tersebut dilaporkan telah mencapai Provinsi Songkhla dan memicu lonjakan tingkat polusi udara. Pusat Penelitian Polusi Udara dan Dampak Kesehatan Universitas Prince of Songkla mencatat tingkat partikel halus PM2,5 di Distrik Hat Yai sempat menembus angka 67,2 mikrogram per meter kubik ($\mu\text{g/m}^3$) pada Rabu pagi waktu setempat. Angka ini jauh melebihi ambang batas aman yang ditetapkan pemerintah Thailand, yakni 37,5 $\mu\text{g/m}^3$.
Kondisi tersebut menempatkan kualitas udara di kategori berwarna oranye atau berisiko mulai berdampak pada kesehatan masyarakat. Bahkan, beberapa area dilaporkan sempat menyentuh tingkat bahaya kategori merah dengan konsentrasi PM2,5 mencapai 88,2 $\mu\text{g/m}^3$, dengan rata-rata harian berada di angka 59,9 $\mu\text{g/m}^3$.
Tebalnya kabut asap juga mengganggu pandangan di sejumlah jalur utama. Di Provinsi Songkhla, kabut tebal menyelimuti wilayah sepanjang rute Khao Khue-Hong hingga area Taman Kota Hat Yai. Sebagai pusat ekonomi dan kota terbesar di selatan Thailand yang dihuni hampir 800.000 jiwa, Hat Yai merupakan kawasan vital yang berbatasan langsung dengan Malaysia.
Menanggapi fenomena asap lintas batas ini, Departemen Pengendalian Polusi Thailand (PCD) mengimbau warga di sepanjang wilayah perbatasan selatan untuk meningkatkan kewaspadaan serta terus memantau perkembangan kualitas udara.
Dampak karhutla Indonesia sejatinya tidak hanya dirasakan oleh Thailand, tetapi juga menyebar ke beberapa negara tetangga lainnya seperti Malaysia dan Filipina.
Pemerintah Indonesia sendiri menyatakan terus menempuh berbagai upaya intensif guna memadamkan titik api di dalam negeri. Personel gabungan dari tim pemadam kebakaran, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, hingga Polri dikerahkan di lapangan. Selain pemadaman darat, Indonesia juga mengoperasikan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk memancing hujan buatan di titik-titik rawan kebakaran.
Di sisi lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta negara-negara tetangga untuk bersikap bijak dan tidak saling menyalahkan terkait dampak asap lintas batas yang ditimbulkan oleh karhutla ini.
(ya/an)






Leave a Reply